Siti Rachmawati
305342481433
Off G
KONVERSI GAS
Konversi merupakan satu kosakata yang sering dibicarakan ataupun dibahas oleh berbagai kalangan baik masyarakat yang berpendidikan tinggi maupun berpendidikan rendah bahkan yang tidak berpendidikan sekalipun. Baik dalam forum resmi seperti seminar-seminar nasional ataupun dialog-dialog yang diselenggarakan oleh berbagai media massa. Ya….KONVERSI atau yang lebih tepatnya konversi energi khususnya energi gas telah menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan.
Konversi gas merupakan salah satu program pemerintah pusat mengganti minyak (khususnya BBM) dengan gas bumi, program tersebut sejak tahun 2006 digulirkan untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia dan pada tahun 2012 program ini ditargetkan tuntas dilaksanakan. Program pemerintah tentang konversi gas ini dimulai dengan kelangkaan minyak tanah yang selanjutnya diikuti dengan kenaikan harga minyak tanah tersebut. Kejadian ini diawali terlebih dahulu oleh warga di ibukota Jakarta dan kemudian diikuti oleh daerah-daerah lain di Indonesia khususnya di Pulau Jawa seperti Jawa Barat. Seperti yang kita ketahui minyak tanah merupakan salah satu bahan bakar minyak yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk memasak.
Ada berbagai alasan yang dikemukakan oleh pemerintah sebagai pihak yang memiliki hajatan tersebut. Pemerintah beralasan bahwa kebijakan ini dibuat untuk menghemat cadangan minyak bumi Indonesia dan menimbangi naiknya harga minyak bumi dunia yang menembus US$ 100 per barel bila harga minyak dunia mencapai angka tersebut maka pemerintah harus mengeluarkan subsidi Rp50 triliun per tahun. Hal ini dengan perhitungan, bila harga minyak dunia mencapai US$ 100 per barel maka harga minyak tanah per liter mencapai Rp7.000 sehingga pemerintah harus mengeluarkan Rp5.000, padahal produksi minyak tanah Indonesia mencapai 10 juta kiloliter. Alasan yang terakhir dikemukan oleh pemerintah adalah menghemat uang negara sampai lebih dari Rp 30 triliun.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut, kita sebagai masyarakat pengguna bahan bakar minyak dan hanya menjalankan sebuah kebijakan, tentunya kita harus menelaah kembali kebaikan dan keburukan dari kebijakan tersebut agar dapat mengambil hikmahnya. Disini saya akan menelusuri tiga kebaikan dan tiga keburukan dari kebijakan tersebut.
Kebaikan pertama dengan adanya kebijakan tersebut kita diajarkan untuk tidak tergantung dengan minyak bumi Indonesia. Bila ketergantungan ini dapat dikurangi, kita akan menghemat cadangan minyak bumi Indonesia, sehingga anak cucu kita dapat merasakan juga minyak bumi dari hasil bumi sendiri tanpa harus tergantung minyak bumi impor. Alasan yang lebih penting dari upaya menghemat adalah untuk mengurangi jumlah lubang-lubang yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan minyak bumi.
Alasan kedua, kita diajarkan untuk berpikir mencari energi bahan bakar alernatif yang lebih ramah lingkungan. Apabila kita dapat menemukan bahan bakar alternatif ramah lingkungan, maka dua tindakan sekaligus dapat kita sumbangkan untuk Indonesia ini, yaitu menghasilkan energi bahan bakar baru dan mengurangi pencemaran lingkungan. Sesuai dengan faktanya bahwa bumi Indonesia ini memiliki sumber daya hayati yang belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain itu, selama ini sebagian besar pencemaran lingkungan disebabkan oleh gas karbondioksida yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar, baik dari kendaraan bermotor maupun pembakaran rumah tangga. Ada berbagai macam bahan alam yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar, misalnya jagung ataupun jarak pagar yang saat ini banyak dilakukan riset untuk dimanfaatkan sebagai bioenergi.
Kebaikan ketiga yang dihasilkan dari kebijakan pemerintah ini adalah sesuai dengan tujuan pemerintah, yaitu menghemat uang negara. Apabila uang negara bisa dihemat untuk subsidi bahan bakar, maka uang yang tersisa tersebut dapat dilimpahkan atau dimanfaatkan untuk membiayai bidang lainnya, seperti biaya sekolah di Indonesia. Selama ini telah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan di Indonesia membutuhkan banyak biaya. Saat ini sudah waktunya bagi pemerintah lebih memperhatikan pendidikan tunas bangsa ini disamping masalah korupsi yang tak pernah berujung. Pendidikan sangatlah perlu diperhatikan lebih jauh oleh pemerintah agar anak-anak Indonesia dapat memperoleh pendidikan dengan baik tanpa memikirkan lagi kelas yang hampir roboh, bangku kelas yang tak layak pakai lagi, ataupun kekurangan buku penunjang pelajaran. Hal tersebut dapat terwujud apabila dana yang tersisa tidak dibelokkan oleh pihak-pihak yang ingin menambah pundi-pundi kekayaannya. Tentunya….
Setelah kita melihat ketiga kebaikan diatas, sekarang kita coba jabarkan keburukan yang dihasilkan dari suatu kebijakan yang boleh dibilang kurang sosialisasikan oleh pemerintah. Keburukan pertama yang dapat kita jabarkan adalah menambah beban hidup masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang berpenghasilan kurang dari Rp 20.000 dalam satu hari dengan jumlah tanggungan keluarga sebanyak 5 orang, misalnya. Keluarga ini akan merasa keberatan untuk membeli tabung gas atau lebih tepatnya isi ulang tabung gas yang telah diberikan pemerintah secara cuma-cuma tersebut. Bila dihitung, saat ini harga tabung gas ukuran 3 Kg adalah Rp 12.750, sedangkan penghasilannya hanya Rp 20.000. harga tersebut dapat saja menyulitkan masyarakat untuk membelinya, apabila penghasilan yang diperoleh tersebut harus dipotong untuk membiayai kebutuhan lain, semisal membeli buku sekolah untuk anaknya. Selama ini apabila dari penghasilan tersebut hanya tersisa Rp 2.000 saja, mereka masih dapat memperoleh 0,5 liter minyak tanah (dengan harga minyak tanah RP 4.000 untuk 1 liter), sehingga kompor didapur mereka masih dapat menyala dan makananpun dapat disajikan.
Keburukan kedua yang dapat kita rasakan adalah meningkatkan jumlah gizi buruk dan kemiskinan di Indonesia. Yaaa…akibat ini dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung. Peningkatan harga bahan bakar minyak menyebabkan harga bahan kebutuhan pokok juga akan naik. Hal ini terjadi seperti hukum alam yang berlangsung secara sinergis. Bila semua harga naik, dapat ditebak pula pemenuhan gizi anak-anak Indonesia juga terhambat, khususnya anak-anak yang selama ini telah berada dalam kemiskinan. Sedangkan masyarakat yang selama ini telah dikategorikan miskin akan bertambah miskin.
Keburukan ketiga, semakin berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden kita saat ini. Masyarakat yang kurang mengerti akan sebuah kebijakan, pastinya akan berpikiran bahwa pemerintah telah lupa dengan janjinya dulu saat kampanye. Tetapi setelah mereka menjadi pemimpin, kadang-kadang mereka lupa atau sengaja melupakan janji yang telah diucapkan dahulu. Penderitaan rakyat tidak berkurang, tetapi semakin bertambah atau boleh dibilang semakin parah. Sungguh sangat ironis sekali, bila kita lihat bumi Indonesia ini kaya akah sumber daya tetapi masyarakatnya banyak yang miskin.
Dari enam akibat yang ditimbulkan dari sebuah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, kita masih dapat melihat banyak lagi akibat-akibat lain yang dapat dirasakan. Contoh diatas hanyalah setetes akibat yang dapat kita jabarkan dari sedanau masalah yang dirasakan masyarakat sebagai obyek dari suatu kebijakan. Bila kita telah terjun sendiri dimasyarakat, pasti masalah-masalah baik dan buruk dapat kita lihat secara langsung.
Penutup
Seperi peribahasa, Tak Ada Gading Yang Tak Retak dan Tak Ada Asap bila Tak Ada Api Dampak krisis energi bukan hanya merambah pada perekonomian Negara, tapi pada masyarakat khususnya. Mengapa tidak??? Setiap kebijakan dari pemerintah akan menampilkan dua sosok yang pro dan kontra. Satu sisi kebijakan tersebut dapat membantu pemerintah mengurangi masalah ekonomi akibat kenaikan harga BBM dunia, tapi disisi lain masyarakat kita yang nampaknya belum siap untuk dihadapkan pada puncak ekonomi yang semakin melilit leher mereka. Banyak sekali permasalahan baru yang muncul tapi semua berakhir dengan kata kebijakan dan subsidi yang tidak berujung arahnya. Pada masyarakatkah atau hanya untuk kepentingan sekelompok orang saja???.